Apa yang terjadi di Gangnam Host Bar pada jam 2 pagi? (part 2)

Dari data statistik blog ini, trnyata bnyak juga yg baca artikel ttg host bar di korea. Karena itu, kali ini gw mencoba lanjutin ngetranslate part 2 dari artikel ini (pdhl udh males saking ni artikel udh cukup lama dan terlupakan). Yah sudahlah, cekidot:

Apa yang terjadi di Kangnam pada jam 2 pagi…”Noona, kamu mau ‘minjja’? Tentunya kami mempunyainya!” Daerah tanpa hukum dari penyimpangan wanita

Pada akhir bulan lalu (artikel ini diposting di blog grandnarrative tgl 21 Maret, jadi mungkin akhir bulan lalu di sini merujuk pada bulan Februari) di distrik hiburan dewasa Seoul Nonhyeon-dong, setelah melalui daerah persimpangan kompleks apartemen Woo-seong pada jam 2 pagi dan memasuki jalan kecil pada satu sisi, bar hiburan dewasa dengan tanda neon bersinar terlihat. Di antara tempat2 ini, kami pergi ke tempat ‘K’, dimana beroperasi sebagai tempat salon dan host bar (salon beroperasi sore hari, host bar saat malam hari).


Pintu masuk menuju Seoul Samseong-dong host bar pada jam 1 siang. Empat pria muda mengucapkan selamat tinggal pada dua wanita.

Ketika memasuki tempatnya, melalui bunyi pintu dibuka, pria umur pertengahan 40an dan wanita karir muda duduk bersama dan menuangkan minuman dapat terlihat. Pada ruangan selanjutnya, pria berwajah baby-face yang terlihat berumur awal 20an menyuapi snack pada wanita umur 30 atau 40an atau melepas kaos mereka dan menari, dan adegan memalukan lainnya dapat terlihat jelas. Host pria dan wanita bercampur di ruangan yang sama merupakan hal yang tidak biasa. Direktur yang menjalankan bisnis ini mengatakan “Kami menjalankan dua bagian secara terpisah. Ini disebabkan host wanita muda merasa tidak nyaman untuk bekerja dengan host pria dan seringkali keluar.”

Di sini, seseorang harus membayar setidaknya 180.000 won untuk sebotol alkohol Western. Dibandingkan dengan host bar level atas, ini termasuk relatif murah sehingga memperoleh reputasi diantara ibu rumah tangga biasa dan pekerja kantoran sebagai “tempat yg tepat untuk bersenang2 tanpa beban.” Setelah menunggu lebih dari 5 menit, suatu “kotak” (istilah untuk 10 atau lebih host) yang disebut “Model”, “Boy”, dan lainnya masuk. “Seonsu” (istilah slang dari host) yang tidak ikut dalam bisnis ini tapi ada di sana sehingga ketika ada pelanggan yang mengunjunginya, mereka menerima telepon dan datang, disebut sebagai “bodo”. Host pria menerima tip sebesar 30.000 won per jam. Karena perbandingan harga yang murah, ibu rumah tangga dan pekerja kantoran setelah jam 9 malam dan pada fajar, berbagai tipe wanita dari mahasiswa universitas sampai wanita karir profesional datang ke sini.

Diantara seonsu, terdapat baby-face yang terlihat belum menyelesaikan sekolahnya. “Nama saya Wild Joon”, “Saya Hyeon-woo yang bermain keras”. Pengenalan diri terus berlanjut dalam suasana seperti ini. Dua orang berbicara dengan kami setelah “memilih”.
“Kamu tidak punya teman yg lebih muda?”
“Apa noona suka minjja (anak bawah umur)? Tentu saja kami punya. Anak yang kedua ini juga akan mengambil ujian perguruan tinggi tahun ini.”
Mr. A, pria pada umur 20an yang telah menjadi host selama 4 tahun menyatakan “Biasanya lebih banyak anak bawah umur di bodo dibandingkan di sini.”
Reporter ini juga menanyakan apakah “second stage” bisa dilakukan. ” Ayolah, kamu juga sudah tahu. Aku suka noona jadi tidak apa2. Tapi, hitungannya per jam, jadi…”

Sejauh yg terlihat, prostitusi berlangsung di beberapa ruangan

Seorang seonsu yg berumur 20an terhenti ketika melihat reaksi. Ini sepertinya akan membicarakan harga untuk berlanjut ke “second stage”, jadi reporter ini menanyakan ” Bagaimana kalau 500.000 won?” dan dia mengangguk. Dia berkata bahwa ada beberapa kasus dimana prostitusi terjadi di ruangan. Dia kemudian menenangkan reporter yg menyamar sebagai pelanggan dengan mengatakan “Jika polisi datang, saya akan mengatakan kalau saya adalah pelayan atau noona dan saya saling kenal.”
Kepada reporter yang telah “bermain” dengan baik selama beberapa waktu dan berdiri untuk segera pergi, seonsu berkata “Noona, kamu tidak perlu khawatir ttg crackdown. Segala sesuatu mempunyai solusinya.”

source: thegrandnarrative

wow!!! bnyak anak bawah umur (usia belasan berarti ya, org masih sekolah) jadi host bar dan melayani para noona yg umurnya di atas mreka, hmmm… ga abis pikir juga. Mana baca komen d artikel ini, bahkan ada gosip (gosip sih ya, makin digosok makin sip~~~ *halah) klu ad juga selebriti yg kerja di tempat ky gini *speechless ==’. Jadi inget tadi sempet jln2 ke forum detik dan menemukan thread populer ttg para tante2 tajir di Indonesia yg ngerayain salah satu ultah temennya dan diundanglah 3 pria muda shirtless o_0. Sempet ilfil juga liat foto2 para tante genit tp yah sudahlah *abaikan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s